Kisah sebuah bunga….

flower

“Dan bunga itu menangis.
Menangis karena tahu takkan pernah dibawa pulang oleh sang tuan penjaganya.
Sudah ada sebuah bunga cantik yang selalu siap menyambut di rumah sang penjaga itu.
Bunga cantik yang telah menemani bertahun-tahun, memberikan wangi dalam setiap ruang di rumah  itu….”

Ini adalah kisah tentang sebuah bunga.
Bunga yang berada di taman, di kebun, di pinggir jalan..

Suatu hari, ada seseorang yang dengan senang hati ingin merawat bunga itu. Setiap saat ia memiliki waktu, maka ia akan menyirami bunga itu. Kadang dengan air, kadang hanya dengan sapaan saja. Mencium wanginya. Bunga itu menyebutnya, Sang Tuan Penjaga. Karena telah menjaganya dan merawatnya dengan penuh kasih, padahal ia tidak tumbuh di halaman rumahnya.

Bunga itu pun tumbuh dan terus tumbuh,,dan selalu menunggu kedatangan sang tuan penjaga.
Kadang ia menahan hausnya, karena sang tuan penjaga sedang sibuk dengan kehidupannya, sehingga tak ada waktu untuk menyiraminya dengan air. Tapi bunga itu tetap senang, meskipun menyimpan sedih, mendengar sapaan sang tuan penjaga.

Bunga itu kian mekar tiap harinya.
Dan berharap sang tuan penjaganya berkenan membawa ia pulang ke rumahnya, supaya ia bisa lebih sering berdekatan dengan sang tuan penjaga. Supaya ia bisa menebarkan wangi kelopaknya di setiap hari sang tuan.
Tapi ia pun tahu, bahwa di rumah sang tuan itu, sudah penuh dengan bunga.  Karena itulah sang tuan menghampiri, merawat, dan menyapanya di luar. Tak mungkin ada tempat lagi untuknya.

Bunga itu pun akhirnya tetap berada di tempatnya.
Menunggu kedatangan sang tuan penjaganya, setiap tetesan air siramannya, tiap sapaannya, tiap sentuhannya, dan ketika ia mencium wangi kelopaknya.

Bunga itu pun tetap berdiam.
Menunggu terpetik saja, terinjak, atau tergilas kendaraan.

ps: gambar diambil dari sinih

3 Responses to “Kisah sebuah bunga….”


  1. 1 DosenGila Jan 12th, 2010 at 11:01 pm

    Bunga itu memilih untuk dipetik dan dibawa pulang, atau dibawa pulang utuh dan bersaing dengan bunga yang lain, atau tetap seperti ini dan menjadikan harapan sebagai kekuatan yang memerdekakan …

  2. 2 Bloggie is not Doggie Jan 16th, 2010 at 3:19 pm

    wedew.. ksihan bener tuh bunga ..
    meski menangis n mungkin di duakan bahkan ditigakantetep ja nungguin, manusia ada ga ya yg kyk tuh bunga.
    *wondering
    btw salam kenal,.. –sesama alumni serayu tidak menolak kunjungan balasan– :mrgreen:

  3. 3 goop Jan 23rd, 2010 at 12:17 pm

    Simaklah bagaimana kematian bunga itu. Sapardi menuliskannya begitu elok dalam ‘Sonet: Hei! Jangan Kaupatahkan’.

    Jangan; saksikan saja dengan teliti
    bagaimana Matahari memulasnya warna-warni, sambil diam-diam
    membunuhnya dengan hati-hati sekali
    dalam Kasih sayang, dalam rindu-dendam Alam;
    lihat: ia pun terkulai pelahan-lahan
    dengan indah sekali, tanpa satu keluhan.

Leave a Reply

kucing