*opo to ikiiii….hekekekekk….*
Archive for December, 2008
Di sebuah malam, aku duduk di pojok kafe. Menyantap hidangan Chocomelt yang terasa lembut di lidah. Dan dengan leluasa mengamati segala polah pengunjung yang lain.
Tertumbuk mataku dan menatap lekat pada sebuah kereta bayi, di dekat sekelompok orang yang sedang tertawa dan mengepulkan asap. Sebuah kereta bayi, di sebuah kafe, dengan orang-orang berasap, pukul sebelas malam.
I think what I wanna think about.
Sepertinya ada sebuah keluarga muda yang sedang nongkrong dengan kawan-kawannya. Ibu si bayi sedang mencoba membujuk si bayi yang menangis keras. Tatapannya memang khas seorang ibu muda yang sangat menyayangi buah hatinya yang sepertinya baru beberapa bulan saja keluar dari gua nyaman dalam perutnya. Tapi tetap saja, dia tak terlalu jauh berjarak dengan asap-asap itu.
Ah, seandainya aku menjadi si bayi tersebut, apa yang akan kukatakan ya…?
Mungkin aku akan berkata begini:
Andai saja aku sudah bisa berkata
Maka bolehkah aku mencerca
Mengeluarkan caci dan maki dalam marah
Pada mulut-mulut berasap itu
Andai tangan ini sudah mampu bergerak bebas
Maka bolehkah aku menuding muka-muka bodoh itu
Meluapkan rasa tidak terima
karena kebutaan yang bodoh tertutup asap
Dan aku hanya terkurung dalam rengekan
Mencoba menarik hati sang bunda
Mencoba menyadarkan pengasap-pengasap itu
Atau menyimpan dendam padanya
Gyahahaha…sungguh perumpaan yang bodoh, dengan seolah menempatkan diriku menjadi si bayi itu. Dengan kepolosan seorang bayi, apa mungkin ya dia akan berkata sedemikian keras seperti apa yang kutulis di atas. Hehehe.. aku nyengir saja, ah…
Suatu hari sepulang dari sekolah, seorang anak hendak menyalakan tivi di rumahnya. Penat dan bete sudah menggendoli kepalanya yang kepanasan, pengap, dan berdebu kena kabut hitam di jalanan. Tanpa melepas segala atribut penyeragaman pakaian yang harus dia pakai tiap hari kalau nggak pengen olahraga angkat satu kaki selama beberapa menit atau jam, atau malah olahraga otak buat mengakali para pakar ilmu pengetahuan yang ditaktor di sekolahnya.
Baru beberapa menit dari cahaya kotak gambar berbunyi itu berpendar, sang ibu sudah meneriaki dari kamar,
“Matikan tivinya!!! Tak baik kamu terlau banyak menonton tivi!! Lagian ini bukan jam tayangan buat umur sekecil kamu!!!”
Si anak menjawab dengan kesal.
“Ah, emak ini. Tak tahukah aku butuh hiburan. Guru di sekolah tadi bikin bete!!!”
Ibunya menjawab,,
“Kalau butuh hiburan,,mainlah di luar sana! Jaman aku kecil, aku biasa main ke rumah teman. Atau, bermain apalah,,layangan, atau ke sawah sana!!”
Anak menyahut,
“Lho emak ini gimana. Tanah sawah di pinggir itu kan udah digusur, mak. Tu, lagi ditimbunin pake tanah,,mo dibangun rumah rumah guede katanya…”
Ibunya baru ingat. Lupa. Padahal baru beberapa minggu dapet duit ganti yang udah abis buat bayar utang sana sini.
“Ya maen layangan sana!!”
Si anak tambah cemberut.
“Maen di manaaaaaa…. Di jalan??? Mau aku tertabrak mobil mak?? Ntar nyangkut-nyangkut juga layanganku di kabel-kabel yang di atas itu… Di gang?? Mau aku dimarah-marahin sama orang lewat,,dianggap anak nakal, gak tau aturan maen layangan di gang sempit begitu. Emak juga yang malu….”
Hhh……iya juga ya….., batin emaknya.
“Ya udah main aja di taman sana!”
Si anak tambah nggak abis pikir sama emaknya satu ini.
“Taman mana yang emak maksud?? Di daerah kita ini emang masih ada, taman yang bisa buat maen-maen ma anak kecil kaya aku ini. Yang ada juga buat orang pacaran itu, mak. Kemarin aku liat tu,, ada cewek cowok lagi bedua-dua gitu mak, di bawahnya pohon sirsak. Atau kalo gak taman yang buat banci-banci itu, mak. Kemarin aku ditowel-towel di sana. Emak mau aku dicolek-colek gitu, mak, sama banci. Mak nggak takut aku ketularan jadi banci……?? Yang di sana, yang di ujung itu, kemarin katanya malah tamannya mo dibangun mall mak,,itu tuh,toko yang guedeeeeeeee bangetttt…..”
Si ibu menghela napas. Hhh… apa lagi ya…yang bisa bikin anaknya gak nonton tivi.
“Ya udah,,mainlah ke rumah teman-teman kamu…..”
Hakakakakkk……
Si anak ketawa.
” Ya sama aja, mak. Sampe sana yang ada mereka nonton tivi pula. Nggak ada lagi yang bisa dikerjain.”
Akhirnya si anak memutuskan,,
“Mak,,aku maen ding-dongan aja ya kalo gitu, daripada nonton tiviiii…….”
Si ibu kaget.
“Eeeeeeeeee,,,,,,ya udah…ya udah…. kamu nonton tivi aja………………… Tapi pilih yang acaranya bagus ya. Jangan yang aneh-aneh. Emak mau setrika dulu ini, masih banyak, punya nyonya yang kaya di ujung sana itu….”
Hehehehe.. Si anak nyengir. Sambil duduk di depan tivi dengan jarak antara biji mata sama layar nggak selebar daun kelor,,dia mulai menikmati tontonannya. Di kotak gambar berbunyi itu ada orang-orang lagi dangdut ria,,goyang gembol sampe goyang pegol,,penontonnya goyang-goyang juga, dari mulai goyang pinggul mpe goyang jempol,,……
Sore tiba.
Saatnya mandi.
Kemudian lanjut sudah,,menonton cerita-cerita keren,,karena banyak mobil keren dan betis keren, yang judul ceritanya mirip judul dongeng yang pernah diceritain ibunya sebelum tidur jaman dia masih suka meler ingusnya kemana mana,, masih ngompolan,, “Upik Labu dan Laura si Anak Bule”
***
(re-post from my another blog, di sini, dengan sedikit suntingan)


Ur Katharos..