Curhat Asmara Pasangan Blogger

Katanya,

Dari mata turun ke hati

Atau…

Dari lidah turun ke hati

Tapi bisa juga…..

Dari huruf turun ke hati

Dan akhirnya,

Dari kopdar berlabuh ke pelaminan…… ^.^

Ah, menjadi seorang blogger ternyata bisa mendatangkan jodoh juga. Hehehehe…

.


Curhat Asmara Pasangan Blogger

Festival Komputer Indonesia ‘09, JEC - Yogyakarta.

Jumat, 12 Juni 2009 - 18.30 wib


Stiker Waspada

Dalam perjalanan menuju Pangandaran dan Green Canyon bersama rombongan dari Backpacker Indonesia, saya dan teman-teman mampir di warung pinggiran pinggir jalan  menuju Pangandaran, yang di belakangnya masih rimbun hutan.

Ada beberapa deretan warung dari bangunan kayu, khas warung-warung yang berada di daerah pinggir hutan jalan jalur antar kota, yang biasanya disambangi para supir yang ingin mengecap segelas kopi untuk menghilangkan kantuk.

Ada yang menarik perhatian saya dari deretan warung tersebut. Selain penunggu warungnya yang notabene adalah kaum ibu dan jam buka yang nonstop (saya mampir sekitar pukul 03.00 WIB), di setiap bangunan non permanen itu, saya menemu ‘gambar tempel’  ini.

Namanya Stiker Waspada.

Sayangnya, saya tidak sempat bertanya banyak pada ibu-ibu penunggu warung-warung tersebut, karena sedang terlarut dalam perkenalan dengan orang-orang baru di BI, yang mengikuti trip kali ini. Namun, dari apa yang terpampang di stiker ini, saya membuat kesimpulan sendiri, bahwa stiker ini seperti sebuah label untuk tiap keluarga yang berisi tentang laporan kondisi kesehatan keluarga, terutama ibu dan anak.

Mungkin ini sedikit perwujudan kecil bagaimana kelompok desa berusaha menjaga kesejahteraan warga di lingkungannya.

Adakah ini menunjukkan sebuah kearifan lokal yang masih kuat?

Jogja kehilangan salah seorang tokohnya. Saya yakin begitu pula Indonesia.

Pagi ini saya mendapatkan kabar bahwa beliau, Sapto Raharjo, telah berpulang karena sakit dini hari tadi (Jumat, 27 Februari 2009).

Semoga arwah beliau diterima di sisi-Nya.

Dan segala warisan budaya, pemikiran, dan semangtnya akan menjadi warisan yang terus dilestarikan, dijaga, dan diteruskan…. Amien..

*Sedang menonton live sinetron di Parsley Jakal bersama teman*

Tokoh pria disinyalir berasal dari ibukota yang konon membuat orang menjadi gampang berkarakter congkak nan merasa berkuasa. Sang tokoh perempuan terlihat tak berdaya di depannya, dengan tatapan serba salah dan penuh ketakutan.

cowok: “Kamu percaya kan sama aku…aku gak bakal ngapa-ngapain mereka, aku cuman pengen tau mereka itu baik gak buat kamu..” *menatap tajam*

cewek: “Udahlah…gak usah diperpanjang lagi..itu juga salahku kok…” *tatapan memelas*

cowok: “Ya udah. Aku gak usah ketemu mereka. Orang tua mereka baik ‘kan? Aku cuman mau ketemu baik baik” *ngotot*

cewek: “Dia gak mungkin boleh keluar malem-malem begini… Orang tuanya baik… Tapi mereka aneh…. Kamu pasti gak suka.. Aku juga gak jamin mereka suka sama kamu..” *meremas botol aqua*

(Hmm..cari alesan yang lebih oke gak bisa ya..)

cowok: “Masalahnya mereka udah ikut campur sama masalahku sama kamu. Aku gak bisa diem aja.. Aku cuman mau bantu kamu nyelesein masalah ini”  (hmm…jadi yang punya masalah siapa ya sebenernya….)

cewek : “Mm..bisa gak kalo ketemunya abis aku try out aja…besok minggu”

(oo..masi SMA tah tokoh perempuannya…)

cowok : “Besok aku mau ke Singapur, gak tau sampe kapan..” 

(besok saya juga mau ke Zimbabwe, mas….)

cewek: “Ya udahlah.. itu juga salahku..gak usah diperpanjang lagi…”

cowok: “Ya udah. Gini deh, kamu mau aku bantu gak. Kamu percaya gak sama aku. Aku cuman pengen tau aja mereka itu orangnya gimana. Mereka kelas brapa sih? Masa kamu gak tau? Kamu kan sering maen sama mereka, tau orang tuanya, tau mobilnya. Kamu jangan boong ya sama aku… Kalo sampe kamu boong lagi, mending mulai dari sekarang kita gak usah ketemu”

(lha, yang masih pengen ketemu lagi siapa? Ih, pede deh masnya..)

Penonton mulai bingung. Sebenernya masalahnya apa to ini..

cewek: “Aku gak tau…mereka kelas satu..ato kelas dua…aku gak tau..” *ngremes2 botol aqua*

cowok: ” Jadi kemaren waktu aku sms kamu, mereka juga ikut baca?! Mereka yang bales? Ini gak bisa dibiarin. Kalo semua orang kaya gitu, Indonesia ini bisa tambah kacau keadaannya..”

(wuihh…pacaran bisa ngepek ke masalah negara yaa…huhuyy..keren bangett…gyahahaha)

cewek : “Tapi waktu itu aku kan lagi kesel sama kamu…” *masi ngremes2 botol aqua*

……………

……………

 

 

N the show goes on…..

 

*capek ngetik, gak rampung2 sinetronnya*

 

 

Forgiving is remembering…

Memaafkan dengan legawa ketika teringat, atau mengingatnya. Dan melupakan bukan berarti memaafkan. Melupakan bisa saja berarti mengingkari

Melupakan adalah mengingkari??

Tapi bukan berarti mengingat-ingat kembali adalah proses memaafkan.

Forgiving is not always mean,, I love you.

Memaafkan bisa saja berarti,,

“Aku memaafkanmu, tapi aku tidak mau melihatmu lagi.”

Tidak memaafkan berarti…

Menyimpan racun di dalam tubuh, otak, jiwa.

Membiarkan kita dikuasai oleh orang lain dakam hidup. Karna dendam itu racun.

Hidup adalah pilihan.

Semua orang ingin bebas.

Memaafkan adalah sebuah pilihan untuk membebaskan jiwa atau tidak.

Hidup terasa sebagai sebuah tragedi, kecuali kita sadar bahwa semuanya adalah sebuah pilihan.

inspired by: Oprah.com

Rujak Kuah Pindang.

Rujak Kuah Pindang (Mangga)

 

 

 

Ah, janggal sekali nama itu. Seperti sebuah paduan yang dikawinpaksakan tanpa ampun. Sesuatu yang bernuansa manis asam dan segar dari buah, dipaksa kawin dengan sesuatu yag bernuansa amis. Yeikzzz…

Nama warung yang saya kunjungi dalam liburan setelah mengamen di Bali itu adalahWarung Rujak Glogor, di daerah Pemecutan, Denpasar, Bali.

 

Warung Rujak Glogor

 Warungnya sederhana, kecil, tapi ramai. Menyenangkan. Untuk memesan, kita menuliskan menu yang diinginkan dalam sebuah kertas buram, dan jangan lupa menulis nama!! Hehehe… Kalau tidak menulis nama,sepertinya pesanan anda tidak akan pernah diracik.

Pertama kali datang ke warung itu bersama teman saya Iphan (yang notabene menjadi rekomendator atas makanan ini), kami berdua seperti orang yang kesetanan berpesta.  Di depan kami dipenuhi dengan 5 piring dengan 3 menu yang berbeda. Selain itu, kami juga menghabiskan 4 botol teh. Hihihihi…

Dan hasilnya…………………..saya ketagihan!!! huhuhuhu….

Jam-jam sebelum kembali ke Jogja, dengan sedikit paksaan dan bujukan, saya berhasil menyeret Pakdhe dan teman kami, Ariev, ke warung itu lagi. Rujak Mangga Kuah Pindang! Hmmmm,,,,yummmy,,,,,, sluurrppp……

Saya dan Rujak Mangga Kuah Pindang

 

Dan sampai sekarang, saya masih ingin mencicipinya lagi. Atau, saya mencoba meracik sendiri saja ya..  hwhwhw….

 

Kuingin berolahraga pagi
Dengan sepatu sporty
Yang selama ini kusimpan rapi
Di almari
 
Kuingin berolahraga pagi
Dengan gaya asik
Lirik sana sini
Tebar pesona diri
 
Kuingin olahraga pagi
Tapi baru tidur dini hari
Jantung jadi keki
Tiap diajak olahraga pagi

*opo to ikiiii….hekekekekk….*

Di sebuah malam, aku duduk di pojok kafe. Menyantap hidangan Chocomelt  yang terasa lembut di lidah. Dan dengan leluasa mengamati segala polah pengunjung yang lain.

Tertumbuk mataku dan menatap lekat pada sebuah kereta bayi, di dekat sekelompok orang yang sedang tertawa dan mengepulkan asap. Sebuah kereta bayi, di sebuah kafe, dengan orang-orang berasap, pukul sebelas malam.

I think what I wanna think about.

Sepertinya ada sebuah keluarga muda yang sedang nongkrong dengan kawan-kawannya. Ibu si bayi sedang mencoba membujuk si bayi yang menangis keras. Tatapannya memang khas seorang ibu muda yang sangat menyayangi buah hatinya yang sepertinya baru beberapa bulan saja keluar dari gua nyaman dalam perutnya. Tapi tetap saja, dia tak terlalu jauh berjarak dengan asap-asap itu.

Ah, seandainya aku menjadi si bayi tersebut, apa yang akan kukatakan ya…?

Mungkin aku akan berkata begini:

Andai saja aku sudah bisa berkata

Maka bolehkah aku mencerca

Mengeluarkan caci dan maki dalam marah

Pada mulut-mulut berasap itu

 

Andai tangan ini sudah mampu bergerak bebas

Maka bolehkah aku menuding muka-muka bodoh itu

Meluapkan rasa tidak terima 

karena kebutaan yang bodoh tertutup asap

 

Dan aku hanya terkurung dalam rengekan

Mencoba menarik hati sang bunda

Mencoba menyadarkan pengasap-pengasap itu

Atau menyimpan dendam padanya

Gyahahaha…sungguh perumpaan yang bodoh, dengan seolah menempatkan diriku menjadi si bayi itu. Dengan kepolosan seorang bayi, apa mungkin ya dia akan berkata sedemikian keras seperti apa yang kutulis di atas. Hehehe.. aku nyengir saja, ah… :D

Suatu hari sepulang dari sekolah, seorang anak hendak menyalakan tivi di rumahnya. Penat dan bete sudah menggendoli kepalanya yang kepanasan, pengap, dan berdebu kena kabut hitam di jalanan. Tanpa melepas segala atribut penyeragaman pakaian yang harus dia pakai tiap hari kalau nggak pengen olahraga angkat satu kaki selama beberapa menit atau jam, atau malah olahraga otak buat mengakali para pakar ilmu pengetahuan yang ditaktor di sekolahnya.

Baru beberapa menit dari cahaya kotak gambar berbunyi itu berpendar, sang ibu sudah meneriaki dari kamar,

“Matikan tivinya!!! Tak baik kamu terlau banyak menonton tivi!! Lagian ini bukan jam tayangan buat umur sekecil kamu!!!”

Si anak menjawab dengan kesal.

“Ah, emak ini. Tak tahukah aku butuh hiburan. Guru di sekolah tadi bikin bete!!!”

Ibunya menjawab,,

“Kalau butuh hiburan,,mainlah di luar sana! Jaman aku kecil, aku biasa main ke rumah teman. Atau, bermain apalah,,layangan, atau ke sawah sana!!”

Anak menyahut,

“Lho emak ini gimana. Tanah sawah di pinggir itu kan udah digusur, mak. Tu, lagi ditimbunin pake tanah,,mo dibangun rumah rumah guede katanya…”

Ibunya baru ingat.  Lupa. Padahal baru beberapa minggu dapet duit ganti yang udah abis buat bayar utang sana sini.

“Ya maen layangan sana!!”

Si anak tambah cemberut.

“Maen di manaaaaaa…. Di jalan??? Mau aku tertabrak mobil mak?? Ntar nyangkut-nyangkut juga layanganku di kabel-kabel yang di atas itu… Di gang?? Mau aku dimarah-marahin sama orang lewat,,dianggap anak nakal, gak tau aturan maen layangan di gang sempit begitu. Emak juga yang malu….”

Hhh……iya juga ya….., batin emaknya.

“Ya udah main aja di taman sana!”

Si anak tambah nggak abis pikir sama emaknya satu ini.

“Taman mana yang emak maksud?? Di daerah kita ini emang masih ada, taman yang bisa buat maen-maen ma anak kecil kaya aku ini. Yang ada juga buat orang pacaran itu, mak. Kemarin aku liat tu,, ada cewek cowok lagi bedua-dua gitu mak, di bawahnya pohon sirsak. Atau kalo gak taman yang buat banci-banci itu, mak. Kemarin aku ditowel-towel di sana. Emak mau aku dicolek-colek gitu, mak, sama banci. Mak nggak takut aku ketularan jadi banci……??  Yang di sana, yang di ujung itu, kemarin katanya malah tamannya mo dibangun mall mak,,itu tuh,toko yang guedeeeeeeee bangetttt…..”

Si ibu menghela napas. Hhh… apa lagi ya…yang bisa bikin anaknya gak nonton tivi.

“Ya udah,,mainlah ke rumah teman-teman kamu…..”

Hakakakakkk……

Si anak ketawa.

” Ya sama aja, mak. Sampe sana yang ada mereka nonton tivi pula. Nggak ada lagi yang bisa dikerjain.”

Akhirnya si anak memutuskan,,

“Mak,,aku maen ding-dongan aja ya kalo gitu, daripada nonton tiviiii…….”

Si ibu kaget.

“Eeeeeeeeee,,,,,,ya udah…ya udah…. kamu nonton tivi aja………………… Tapi pilih yang acaranya bagus ya. Jangan yang aneh-aneh. Emak mau setrika dulu ini, masih banyak, punya nyonya yang kaya di ujung sana  itu….”

Hehehehe.. Si anak nyengir. Sambil duduk di depan tivi dengan jarak antara biji mata sama layar nggak selebar daun kelor,,dia mulai menikmati tontonannya. Di kotak gambar berbunyi itu ada orang-orang lagi dangdut ria,,goyang gembol sampe goyang pegol,,penontonnya goyang-goyang juga, dari mulai goyang pinggul mpe goyang jempol,,……

Sore tiba.

Saatnya mandi.

Kemudian lanjut sudah,,menonton cerita-cerita keren,,karena banyak mobil keren dan betis keren, yang judul ceritanya mirip judul dongeng yang pernah diceritain ibunya sebelum tidur jaman dia masih suka meler ingusnya kemana mana,, masih ngompolan,, “Upik Labu dan Laura si Anak Bule”

***

 (re-post from my another blog, di sini, dengan sedikit suntingan)

Semakin salut dengan lelaki itu.

Tawanya pecah terdengar ketika aku baru saja menempatkan kereta bermotorku di pinggir jauh. Tak yakin tawa itu dari mulutnya, dan tak berani memastikan lewat mata secara langsung dari jauh, aku menenangkan diri di balik kereta mesin berbak belakang, sembari melepas segala atribut jalan. Kudengar lagi tawa itu bersambut. Dan kupastikan itu adalah suara yang kukenal, yang ada ketika nama dengan emoticon penuh senyum muncul di layar telepon genggamku. Segala kegelisahan yang terbawa sejak kudengar kabar duka itu, di perjalanan penuh dzikir yang kulantunkan hingga tempat duka kucapai, rasanya menjadi terlihat bodoh bagi diriku sendiri, namun sekaligus terbawa arus kelegaan.

Aku melihatnya di sana. Dengan sikap seperti biasanya. Kecakapan menangani hal-hal di lapangan, tetap muncul ketika harus melakukan segala persiapan untuk pemakaman esok hari. Bersama beberapa yang aku juga mengenalnya sebagai teman-teman dekatnya, sesekali ia tertawa.

Aku kemudian mendekatinya. Setelah mendekati beberapa kawan yang kukenal bersamaan dengannya. Kupanggil namanya dengan senyum tulus yang kupersiapkan hanya untuknya. Akhirnya tangan ini dan tangannya bertemu dalam satu genggaman singkat, diiringi dengan pertanyaan-pertanyaan singkat yang basi tapi penuh kesungguhan ingin terlontar dariku. Sebuah penjelasan singkat yang terdengar seperti biasanya ketika ia menjelaskan hal-hal yang kutanyakan padanya ketika kesempatan langka untuk bisa bersamanya datang.

Aku semakin kagum padanya.
              Dan kini juga pada adik-adiknya, keluarganya.
 

Tidak ada tangis berlebih. Semua seolah memperlihatkan keikhlasan dan pengertian yang tinggi, bahwa tak ada yang perlu ditangisi berlebihan. Hanya doa yang utama perlu disajikan. Senyum yang tetap terpancar, dan ucapan terima kasih bagi mereka yang datang.

Mungkin sebenarnya ada pedih di hati mereka. Ada kehilangan yang membuat lubang lebar menganga. Tapi mungkin mereka telah dididik dengan baik, bahwa segala sesuatu akan kembali pada-Nya.

Aku semakin berharap suatu saat akan mendampinginya.  
            Dan menjadi bagian dari keluarga ini.
                           Yang sederhana, dan tampak bersahaja. Bagiku. Di mataku.

 

Melihatnya yang begitu tenang, tapi tak menyembunyikan segala kekhidmatan demi prosesi terakhir baktinya terhadap sang ayah, membuatku tetap bertahan di sana. Seolah berharap ia tahu aku selalu dan akan ada untuknya.  Dan harapan yang berbisik lembut di hatiku ini membuatku tegar mengikuti keseluruhan prosesi pemakaman, hingga ke bagian yang mendetail dan memperlihatkan secara telanjang mata.

Kekuatanku untuk mempesona lelaki selalu melemah di depannya.                  
          Tak berkutik, bahkan seperti pecundang.

 

Ia selalu membuatku berpikir berkali-kali lipat untuk menemui atau bahkan mengatakan sesuatu sekalipun padanya. Semua menjadikanku merasa salah tingkah. Aneh. Dan kini ketika ia dalam berduka, aku pun berduka, ikut melantunkan segala doa.

Dan tetap mencuri-curi, memandangnya, dengan senyuman dari hati.

Next Page »